Kisah “Ikan Pepes” dari Blitar

Posted on October 31, 2010

0


BERSUAMI orang Blitar ternyata tak selalu bernasib baik. Bu Budiono begitu mujur, karena suaminya setelah jadi Gubernur BI, bakal jadi Cawapresnya SBY. Lha Budiarti ini, 28, ini apa? Kawin dengan Sangidu, 24, yang juga orang Blitar malah sengsara. Bukan jadi Cawapres, tapi malah “ikan pepes” karena selalu digebuki suaminya.

Kota Blitar memang selalu dicatat dalam sejarah. Bung Karno presiden pertama RI, berasal dari Blitar. Lalu menteri luar negerinya, Dr. Subandrio, juga orang Blitar. Menengok ke belakang lagi, pemberontakan tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang dipimpin Supriyadi 14 Februari 1945, juga terjadi di Blitar.

Dan kini yang sedang anget-angetnya menjelang Pilpres 8 Juli 2009 mendatang, ternyata Capres Demokrat SBY juga memilih Cawapres Budiono yang orang Kepanjen, Blitar.

Mungkin terobsesi oleh kegemilangan Blitar, Budiarti, langsung mau ketika ditaksir Sangidu yang asal dari Sanan Wetan, Blitar. Dia lupa bahwa “bahan” bakal suaminya jauh beda dengan Bung Karno, Subandrio, Supriyadi dan Budiono. Mereka semua tehnokrat dan ekonom, sedangkan  Sangidu hanya ekonomi morat-marit, karena pekerjaan saja tidak jelas, sehingga harus menggantungkan pada subsidi orangtuanya.

Tapi begitulah cinta, sering membuat para pelakunya sangat subyektif menyikapi keadaan. Lantaran sudah kadung cinta abis pada Sangidu, lelaki ini ibarat wingka katon kencana (baca: loyang nampak emas) bagi Budiarti. Memang sih, Sangidu ini tinggi besar, gagah macam wayang golek Lamdahur. Tapi yang berotot dan berisi hanya badannya, sedangkan kantongnya tetap saja kempes dan tekor.

Dari segi usia pun juga sangat tekor. Maklum, pasangan itu 4 tahun lebih tua bagi pihak perempuannya. Dus karena itu sikap Sangidu masih mbocahi. Ketika sudah jadi suaminya, belum bisa bersikap dewasa. Dia masih selalu dikendalikan orangtuanya, tak pernah punya inisiatip. Yang paling mengejutkan, Sangidu ini juga cengkiling (suka memukul). Mungkin pembawaan dari kecil. Sebab kata ibu mertuanya, sewaktu usia balita, Sangidu bila marah suka mengancam ibunya: “Mama tabok, mama tabokkkkk…!”

Sekarang, setiap perbedaan pendapat selalu diselesaikan Sangidu lewat tendang dan pukul. Dan ini terjadi hampir setiap hari, sehingga tubuh Budiarti jadi seperti ikan pepes atau bandeng presto dari Semarang. Soal tempat tinggal saja tak pernah ada titik temu. Budiarti tak mau menetap di rumah mertuanya di Bendil, Sanan Wetan; sedangkan Sangidu juga ogah tinggal di rumah istrinya di Mronjo, Kecamatan Selopura.

Sebagai jalan tengah, pasangan itu kemudian dikontrakkan rumah di Jalan Nusa Penida, Sanan Wetan. Secara geografis posisinya ditarik persis di tengah-tengah.

Ternyata, setelah hidup misah (berumahtangga sendiri), justru Sangidu semakin bebas mengembangkan hobi tinjunya. Budiarti selalu dijadikan sansak. Dimintai uang belanja misalnya, bukannya memberi uang segepok, malah tinju yang melayang. “Aku kan belum kerja, ya sabar dong tunggu kiriman ayah ibuku,” kata Sangidu, tapi Budiarti sudah kadung ngejoprak (terjengkang) di lantai, lantaran baru saja kena tendangan 12 pas dari Sangidu.

Kali ini Sangidu agak berbaik hati. Melihat istrinya tak bisa bangun gara-gara sepakannya, langsung dibimbingnya. Tapi itu tak membuat Budiarti terhibur. Karena sudah tak tahan lagi dijadikan bulan-bulanan suami, kemarin dia nekad mengadu ke Polres Blitar. Setelah Sangidu dijerat pasal KDRT, nantinya mau diteruskan ke Pengadilan Agama alias minta cerai.

Posted in: Cerita Dewasa